
Melihat diri sendiri melalui cermin rupanya masih belum cukup.
Kita harus melihat diri sendiri melalui kacamata orang lain agar bisa mendapat gambaran yang menyeluruh dan jelas . Asal kita tahan kritik saja
oleh : Andre Vitchek- worldpress.org contributing editorJuly 26, 2008
penterjemah: Inggriani (?)
Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta ,yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah. Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain,trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN. Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok .
APAKAH INI STIGMA BERLEBIHAN?
Liputan dan statistik pembanding juga jarangditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawanasing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakartasebagai kota "modern", "kosmopolitan" , dan"metropolis" .Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakartayang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenalsebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan.Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah. Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijaudiubahmenjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasanpublik dikota berpenduduk lebih dari 10 juta ini.
DEKAT TAPI "JAUH" DARI LAUT
Meskipun menyandang predikat kotamaritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunyalokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 oranganggotakeluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu halyangtak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecilkondisinyamenyedihkan dan tidak aman.Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota(tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar"internasional" ).
EVERY CITY IS BUILT TO BE WALKED ABOUT.
Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecualibeberapa kotadi AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, danramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.
TAK ADA BANGKU GRATIS APALAGI AIR MINUM GRATIS DI TAMAN TAMAN
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidakadakeran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangatpenting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan dibagian lain dunia.
KOTA PERADABAN ATAU CUKUP SEBAGAI KOTA BERADAB ?
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akankebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kotabelanjanyamenjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dangaleri,dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaanturis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitungjumlahnya,dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di AsiaTenggara.
Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaranmusikAsia dan Barat.Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya,dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.
KE JAKARTA LAGI
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke"perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap"menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan.Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 didunia - Masya Alloh! (pent.) - (menurut The Economist, hanya 1,2% dariPDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebutkeadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)
MUSEUM
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidakmenawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya.Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsurmodern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik.Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan,meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.
SOAL TATA KOTA
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin(mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yangseringkali DIMANIPULIR pemerintah).
BELUM PERNAH DENGAR SOAL IZIN LOKASI?
Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinyake sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik. Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dariwilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganyaperumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis trik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.
SISTIM TRANSPORTASI
Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Metr o (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan kereta api kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia..Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai transportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum.Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi diHanoi ,Singapura, Kuala lumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi danpejabatpemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yangberkebalikan dengan kota-kota tersebut.
KUALITAS HIDUP VERSUS BIAYA HIDUP
Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup,menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006,Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC(83).Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??
WARGA PENDIAM
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan,dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yangkotordan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dantikus.Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik.
TRUTH HURTS BUT CURES
Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi,dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin sepertiPortMoresby, Manila, dan Hanoi.Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajarbertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok,maka barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati" kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kuala Lumpur. " Malaysia punya banyak masalah.Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti Jakarta !
PRO BISNIS DAN PRO PUBLIK
"Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dans olidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kuala Lumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau,perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya.Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.